Kenaikan Harga Sembako Pada Tahun 2014
Disusun Oleh :
Nama : Succy Rasmizar
NPM : 2A214467
Kelas : 1EB02
Kenaikan
Harga Sembako pada Tahun 2014
Pada pembahasan kali ini, saya akan
membahas tentang Kenaikan Harga Sembako
yang Terjadi di Indonesia Pada Tahun 2014. Pembahasan kali ini merupakan
pemenuhan dari tugas perekonomian Indonesia ( Softskill ).
Pendahuluan
Fenomena naiknya harga sembilan bahan pokok
(sembako) pada saat bulan Ramadhan atau menjelang lebaran merupakan sebuah
masalah klasik seolah telah menjadi budaya dari tahun ke tahun. Di antara
sembako-sembako yang ada, kenaikan harga paling signifikan terjadi pada makanan
pokok masyarakat Indonesia, yaitu beras. Permasalahan ini merupakan
suatu hal yang menarik untuk dibahas, karena kenaikan harga beras dapat
mempengaruhi berbagai aspek kehidupan di masyarakat. Seperti ekonomi, politik,
sosial, dan lain sebagainya. Dan juga karena beras merupakan makanan pokok
masyarakat Indonesia, kenaikan harga yang sedikit saja, akan menimbulkan banyak
permasalahan di masyarakat. Hal ini sangat meresahkan para konsumen yang
menggunakan beras sebagai bahan pokok kehidupan mereka karena beras adalah hal
baku yang harus ada sebagai makanan pokok. kita dapat saja menggantikan beras
dengan bahan makanan lain sebagai alternative. Tapi tentu hal yang kita rasakan
tidak sama dengan kita memakan beras.
Kenaikan
harga sembako
Pengamat ekonomi Dr Iman Sugema
mengatakan, masalah sembilan bahan pokok tak terjangkau bagi mayoritas rakyat
saat ini merupakan salah satu masalah besar
yang harus segera diatasi. Menurutnya, secara jujur harus diakui dalam
empat tahun terakhir ini pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dinilai
gagal dalam menjaga stabilitas harga sembako yang antara lain dipicu oleh
kenaikkan harga BBM.’’Nah, yang paling terkena dampak dari kenaikan ini adalah
masyarakat lapis bawah. Jadi, wajar kalau mereka dimana-mana mengeluh dan
menjerit terhadap kenaikan harga
sembako. Itu memang realitas yang terjadi di masyarakat,’’ ujar Iman Sugema di
Jakarta, Rabu (26/11).
Kenaikan harga sembako ini juga tidak hanya pada beras saja,
tetapi juga terjadi pada pada bawang merah dan bawang putih yang mulai
merangkak naik. Kenaikan harga bawang yang belum dikupas dan bawang yang sudah
dikupas memiliki harga yang berbeda.Indonesia juga mengimpor bawang merah
belasan ribu ton dari India, Filipina, dan Thailand. Singkong pun diimpor berton-ton
dari China dan negara-negara lain. Begitu juga garam yang diimpor hampir dua
juta ton dari Australia, Singapura, Selandia Baru, Jerman, dan India.
Indonesia kini menjadi negara pengimpor segalanya. Nilainya
Rp 45 triliun total impor pangan sejak bulan Januari hingga Juni 2011. Data
membuktikan kebijakan Pemerintah saat ini yang cenderung mengimpor pangan
karena mudah ketimbang fokus membangun swasembada pangan yang memerlukan kerja
keras.Bukan karena ketidakmampuan kita memproduksinya sendiri, tapi karena
“mental pedagang” dan “mental koruptif” yang menguntungkan pejabat kita atau
pihak-pihak tertentu. Akibatnya, sentra-sentra produksi di sejumlah daerah yang
dulu berjaya kini merana dan terbengkalai. Misalnya, sentra produksi bawang di
Brebes dan Tegal.
Hal yang lain juga
terjadi pada harga telur. Harga telur ayam negeri di pasaran saat ini masih
tetap tinggi. Rata-rata 13 ribu rupiah perkilogram. Menurut sejumlah agen
telur, tingginya harga telur saat ini dipicu melambungnya harga pakan ternak
ayam. Sementara pihak Asosiasi Produksi Pakan Indonesia menyatakan, kenaikan
harga pakan tidak dapat dihindari karena harga bahan baku pembuatan pakan ayam
yakni bungkil kedelai dan jagung yang kebanyakan diimpor juga melambung.
Harga telur di pasaran saat ini masih tinggi yakni 13 ribu
rupiah perkilogram. Sementara di tingkat agen harganya di kisaran 12.200 rupiah
perkilogram. Tingginya harga telur ayam ini diakibatkan meningkatnya harga
pakan ternak. Sekjen Asosiasi Produksi Pakan Indonesia, Feni Gunadi menyatakan
kenaikan harga pakan ternak ini tidak dapat dihindari karena melonjaknya harga
bahan baku pembuatan pakan seperti jagung dan bungkil kacang kedelai. Kedua
bahan baku utama tersebut merupakan komoditas impor yang harganya sangat
tergantung dengan harga di pasaran dunia. Hingga saat ini harga jagung telah
meningkat hingga 30 persen dan kacang kedelai meningkat 82 persen. Feni
menambahkan, bahan baku lokal seperti dedak juga ikut naik hingga 15 persen. Kenaikan harga ini tidak dapat
diprediksi sampai kapan karena sangat tergantung dengan harga dunia.
Hal senada juga dinyatakan sejumlah pedagang telur. Mencen
misalnya, pemilik agen telur dikawasan Pisangan Lama, Jakarta Timur ini mengaku
kenaikan harga berasal dari pihak produsen karena kenaikan harga pakan. Mencen
menambahkan, para agen maupun pedagang eceran tidak mungkin menaikkan harga
dengan melakukan penimbunan. Pasalnya telur ayam hanya mampu bertahan maksimal
1 pekan.Pemerintah tidak fokus membangun swasembada pangan sembari mengurangi
impor pangan atau ketergantungan Indonesia yang sangat tinggi terhadap produk
pangan luar negeri. Kenaikan harga sembako membuktikan bahwa Indonesia kini
ternyata memasuki darurat pangan.
http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2008/11/27/41154/Sembako-Jadi-Masalah-Besar-
http://www.tempo.co/read/news/2014/06/17/090585686/Harga-Bawang-Merah-dan-Bawang-Putih-Merangkak
http://arisnovianti.blogspot.com/2013/05/makalah-kenaikan-harga-beras-menjelang.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar