Sabtu, 28 Maret 2015

Kenaikan Harga Sembako Pada Tahun 2014



Disusun Oleh :
                                                              
                                                           

                                                                              Nama : Succy Rasmizar


                                                                              NPM  : 2A214467


                                                                              Kelas : 1EB02
                 
Kenaikan Harga Sembako pada Tahun 2014

Pada pembahasan kali ini, saya akan membahas tentang Kenaikan Harga Sembako yang Terjadi di Indonesia Pada Tahun 2014. Pembahasan kali ini merupakan pemenuhan dari tugas perekonomian Indonesia ( Softskill ).

         Pendahuluan

 Fenomena naiknya harga sembilan bahan pokok (sembako) pada saat bulan Ramadhan atau menjelang lebaran merupakan sebuah masalah klasik seolah telah menjadi budaya dari tahun ke tahun. Di antara sembako-sembako yang ada, kenaikan harga paling signifikan terjadi pada makanan pokok masyarakat Indonesia, yaitu beras. Permasalahan ini merupakan suatu hal yang menarik untuk dibahas, karena kenaikan harga beras dapat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan di masyarakat. Seperti ekonomi, politik, sosial, dan lain sebagainya. Dan juga karena beras merupakan makanan pokok masyarakat Indonesia, kenaikan harga yang sedikit saja, akan menimbulkan banyak permasalahan di masyarakat. Hal ini sangat meresahkan para konsumen yang menggunakan beras sebagai bahan pokok kehidupan mereka karena beras adalah hal baku yang harus ada sebagai makanan pokok. kita dapat saja menggantikan beras dengan bahan makanan lain sebagai alternative. Tapi tentu hal yang kita rasakan tidak sama dengan kita memakan beras.

          Kenaikan harga sembako

Pengamat ekonomi Dr Iman Sugema mengatakan, masalah sembilan bahan pokok tak terjangkau bagi mayoritas rakyat saat ini merupakan salah satu masalah besar  yang harus segera diatasi. Menurutnya, secara jujur harus diakui dalam empat tahun terakhir ini pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dinilai gagal dalam menjaga stabilitas harga sembako yang antara lain dipicu oleh kenaikkan harga BBM.’’Nah, yang paling terkena dampak dari kenaikan ini adalah masyarakat lapis bawah. Jadi, wajar kalau mereka dimana-mana mengeluh dan menjerit terhadap kenaikan  harga sembako. Itu memang realitas yang terjadi di masyarakat,’’ ujar Iman Sugema di Jakarta, Rabu (26/11).
Kenaikan harga sembako ini juga tidak hanya pada beras saja, tetapi juga terjadi pada pada bawang merah dan bawang putih yang mulai merangkak naik. Kenaikan harga bawang yang belum dikupas dan bawang yang sudah dikupas memiliki harga yang berbeda.Indonesia juga mengimpor bawang merah belasan ribu ton dari India, Filipina, dan Thailand. Singkong pun diimpor berton-ton dari China dan negara-negara lain. Begitu juga garam yang diimpor hampir dua juta ton dari Australia, Singapura, Selandia Baru, Jerman, dan India.
Indonesia kini menjadi negara pengimpor segalanya. Nilainya Rp 45 triliun total impor pangan sejak bulan Januari hingga Juni 2011. Data membuktikan kebijakan Pemerintah saat ini yang cenderung mengimpor pangan karena mudah ketimbang fokus membangun swasembada pangan yang memerlukan kerja keras.Bukan karena ketidakmampuan kita memproduksinya sendiri, tapi karena “mental pedagang” dan “mental koruptif” yang menguntungkan pejabat kita atau pihak-pihak tertentu. Akibatnya, sentra-sentra produksi di sejumlah daerah yang dulu berjaya kini merana dan terbengkalai. Misalnya, sentra produksi bawang di Brebes dan Tegal.
 Hal yang lain juga terjadi pada harga telur. Harga telur ayam negeri di pasaran saat ini masih tetap tinggi. Rata-rata 13 ribu rupiah perkilogram. Menurut sejumlah agen telur, tingginya harga telur saat ini dipicu melambungnya harga pakan ternak ayam. Sementara pihak Asosiasi Produksi Pakan Indonesia menyatakan, kenaikan harga pakan tidak dapat dihindari karena harga bahan baku pembuatan pakan ayam yakni bungkil kedelai dan jagung yang kebanyakan diimpor juga melambung.
Harga telur di pasaran saat ini masih tinggi yakni 13 ribu rupiah perkilogram. Sementara di tingkat agen harganya di kisaran 12.200 rupiah perkilogram. Tingginya harga telur ayam ini diakibatkan meningkatnya harga pakan ternak. Sekjen Asosiasi Produksi Pakan Indonesia, Feni Gunadi menyatakan kenaikan harga pakan ternak ini tidak dapat dihindari karena melonjaknya harga bahan baku pembuatan pakan seperti jagung dan bungkil kacang kedelai. Kedua bahan baku utama tersebut merupakan komoditas impor yang harganya sangat tergantung dengan harga di pasaran dunia. Hingga saat ini harga jagung telah meningkat hingga 30 persen dan kacang kedelai meningkat 82 persen. Feni menambahkan, bahan baku lokal seperti dedak juga ikut naik hingga 15  persen. Kenaikan harga ini tidak dapat diprediksi sampai kapan karena sangat tergantung dengan harga dunia.
Hal senada juga dinyatakan sejumlah pedagang telur. Mencen misalnya, pemilik agen telur dikawasan Pisangan Lama, Jakarta Timur ini mengaku kenaikan harga berasal dari pihak produsen karena kenaikan harga pakan. Mencen menambahkan, para agen maupun pedagang eceran tidak mungkin menaikkan harga dengan melakukan penimbunan. Pasalnya telur ayam hanya mampu bertahan maksimal 1 pekan.Pemerintah tidak fokus membangun swasembada pangan sembari mengurangi impor pangan atau ketergantungan Indonesia yang sangat tinggi terhadap produk pangan luar negeri. Kenaikan harga sembako membuktikan bahwa Indonesia kini ternyata memasuki darurat pangan.



Sumber :
                                                           
http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2008/11/27/41154/Sembako-Jadi-Masalah-Besar-
http://www.tempo.co/read/news/2014/06/17/090585686/Harga-Bawang-Merah-dan-Bawang-Putih-Merangkak
http://arisnovianti.blogspot.com/2013/05/makalah-kenaikan-harga-beras-menjelang.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar